GEREJA TUA DAN MISTERI
BAB I
PERJALANAN
MELELAHKAN
Suatu ketika di desa kecil yang
dinamakan Mahama terdapat gereja besar yang didalamnya juga menjadi pendidikan
bagi para calon biarawati. Gereja ini banyak menyimpan sejarah yang diluar
nalar manusia biasa. Selain sejarah yang membuat penasaran, dalam gereja ini
juga terdapat buku yang dianggap misteri oleh penduduk desa sekitar. Hal ini
dikarenakan buku tersebut menyimpan berbagai macam misteri dan mantra yang bisa
membuat orang kehilangan kesadarannya hingga mati. Didalam gereja itu terdapat
satu tangga yang terbuat dari kayu dengan pegangan dari besi tua yang di cat
warna hijau yang. Tangga tersebut termasuk tangga tertinggi di dalam gereja
yang langsung megarah pada ruangan tertinggi di dalam gereja tersebut. Ruangan
yang diarahkan tangga tersebut tertuju pada ruangan yang berisi buku ajaib yang
dianggap warga setempat sebagai buku misteri yang banyak menyimpan rahasia
tentang kampung dan gereja tua dengan tangga tinggi tadi. Gereja tua ini
dianggap misteri oleh warga setempat karena banyak warga yang masuk ke dalam
gereja tidak jarang akan tersesat bahkan kehilangan nyawanya termasuk
anak-anak.
Dulunya di tahun 1980 gereja ini
termasuk gereja yang paling ramai dikunjungi oleh para kristiani dan
penganutnya, bahkan setiap minggu tidak jarang disewakan sebagai tempat untuk
melaksanakan resepsi pernikahan dan pesta keagaamaan. Ditahun-tahun ini pula
banyak warga yang sebelumnya tidak memiliki agama masuk ke dalam agama Kristen,
melihat ramai dan rukunnya kehidupan warga setempat. Bahkan tidak jarang orang
dari luar daerah juga mengunjungi gereja yang sekarang dianggap sebagai misteri
tersebut. Datangnya orang dari luar daerah bermaksud untuk berkunjung,
meneliti, hingga mengokohkan diri masuk ke agama Kristen. Begitu kuat maghnet
gereja tersebut untuk menarik perhatian dan simpatisan orang-orang untuk
berkunjung dan memeluk agama Kristen, tidak hanya itu warga setempat juga
menjadi hal yang menjadikan orang-orang dari luar daerah tersebut tertarik,
dikarenakan kerukunan dan keramaian serta tolong menolong dan toleransi yang
begitu kuat dibangun oleh warga setempat. Sehingga tidak jarang ketika melihat
hal tesebut orang lain bisa merasakan kedamaian dan ketenangan, yang menjadikan
mereka ingin tinggal di kampung Mahama dan memeluk kepercayaan mayoritas warga kampung
Mahama tersebut yaitu Kristen.
Kehidupan warga begitu rukun dan
damai sebelum ada seseorang yang datang ke tempat tersebut untuk menuntut ilmu
dan mencari beberapa benda dan makhluk hidup yang terdapat di kampung Mahama.
Benda dan makhluk hidup yang dicarinya tersebut termasuk benda dan makhluk
hidup yang sudah sangat susah dicari bahkan sudah dianggap oleh warga menjadi
sesuatu yang sudah tidak ada keberadaanya ataupun dinggap punah oleh warga
setempat. Namun lelaki separuh baya yang bernama Ki Angke tersebut masih merasa
bahwa sesuatu yang dicarinya tersebut masih ada dan menjadi mitos dan misteri
dari desa tersebut. Dalam perjalanannya Ki Angke menghadapi banyak rintangan
mulai dari yang biasa samapi dengan yang berbahaya. Rintangan yang dihadapinya
tersebut belum tentu bisa dihadapi oleh orang-orang biasa. Hal ini disebabkan
banyak rintangan yang tidak masuk akal, termasuk ketika ia sampai di desa
purba. Desa ini termasuk satu desa yang harus dilewati sebelum sampai ke
kampung mahama, yang mana banyak warganya yang meninggalkan desa tersebut dan
pindah ke kampung mahama, karena daya tarik kampung Mahama yang begitu kuat,
sehingga tidak sedikit warga yang tidak ragu meningglakan desanya untuk
berpindah ke kampung mahama tersebut.
Ketika di desa Purba Ki Angke belum
melihat adanya orang yang lalu-lalang lewat, bahkan terlihat desa tersebut
seperti desa mati tanpa penghuni yang tak terawat. Bahkan persawahan sudah
menjadi semak belukar yang ditumbuhi rerumputan ilalang yang juga menutupi
setengah jalan, sehingga Ki Angke harus merasakan tangannya tersayat-sayat rerumputan
ilalang ketika berjalan melewati jalanan yang di penuhi rerumputan yang
menutupi setengah jalan tersebut. Seraya berjalan ki Angke merasa haus dan baru
sadar bahwa botol minuman yang dibawanya tinggal satu teguk an saja. Sehingga ia
berjalan ke arah mata air yang terletak di sawah tengah-tengah pedesaan dengan
pancur yang terbuat dari bambu yang warnanya sudah menjadi kekuningan akibat
dimakan oleh usia. Sesampainya di mata air Ki Angke tidak langsung mengisi
botol minumannya melainkan meminum dahulu air seteguk yang masih ada di
botolnya dengan sangat cepat terlihat dari gerakan jakunnya yang turun naik
begitu cepat seakan-akan belum minum dari usia dini.
Tidak lama setelah ia meminum air
yang tersisa di botolnya, Ki Angke kemudian mengisi botol kosongnya tersebut
dengan air mata air yang sangat bening melewati pancuran bambu. Beningnya air
mata air tersebut tidak kelihatan akibat botol plastik yang dipakai Ki Angke sudah
mulai kusam, namun masih terasa begitu dingin dan sangat segar. Setelah mengisi
botol minumannya Ki Angke pun beristirahat sejenak sembari rebahan melihat
kearah langit yang begitu biru dan cerah pada hari itu. Tidak lama setelah ia
rebahan ada seorang bapak-bapak tanpa baju dengan celana putih gantung yang
dilumuri becek an sawah. Lalu bapak tersebut
menyahut kepada Ki Angke ;
“Bapak : heii, siapa engkau wahai
orang tua ?
Ki Angke : aku hanya orang biasa yang
sedang menompang istirarahat sejenak disini dan mengisi botol minumanku.
Bapak : lantas hendak kemana engkau ?
Ki Angke : Aku sedang melakukan
perjalanan menuju kampung Mahama
Bapak : Apa keperluanmu kesana orang
tua?
Ki Angke : Ingin menjumpai
keluargaku, apakah jarak kampung mahama tersebut masih jauh dari sini ?
Bapak : ini desa terakhir sebelum
sampainya kampung Mahama, mungkin engkau tinggal berjalan beberapa kilo meter
lagi mengikuti arah jalan bebatuan ini.
Ki Angke : baiklah, terimakasih !!!
Bapak : huhh… mengapa orang selalu
ingin kesana (gumam si bapak dengan muka tengil sambil melangkah pergi)”
Tidak pikir panjang Ki Angke langsung
berdiri dan melanjutkan perjalannya kembali kearah yang ditunjukkan oleh si
bapak yang ditanyakannya barusan. Langkah demi langkah ia berjalan di tengah
teriknya matahari dibawah naungan rumput-rumput ialalang yang tinggi manaungi
separuh jalanan. Sambil berjalan pelan dengan keringat yang menetes dari
jidatnya, Ki Angke meneguk sedikit demi sedikit air mata air yang diambilnya di
pematang sawah di desa Purba. Hari mulai sore namun Ki Angke masih terus
berjalan. Di perjalannya ia merasa lapar dan mencari apa yang ia bisa makan di
tengah-tengah perjalannya tersebut. Beberapa meter setelah ia merasa lapar ia
melihat pohon belimbing dan berusaha mengambil buah belimbing yang masih
mengkal atau belum masak seutuhnya. Namun karena perut sudah berbunyi dan
begitu lapar mau tidak mau Ki Angke pun memakan dan menelan belimbing yang
masih mengkal tersebut. Melihat hari yang mulai gelap dan ia mulai merasa
lelah, Ki Angke menepi dan mencari gubuk atau semacamnya yang bisa dipakai
untuk tidur beristirahat satu malam.
Ketika berjalan melewati hutan ia
melihat rumah tua yang sepertinya sudah lama tidak ditempati, kemudian ia
melangkahkan kakinya dan mandatangi rumah tua tersebut. Sesampainya di depan
rumah tua yang berwaarna coklat dibalut sarang laba-laba dengan atap seadanya
yang sudah bolong-bolong, ia pun masuk untuk melihat bagian dalam rumah
tersebut dan mencari alas yang bisa ia tiduri untuk beristirahat. Di malam yang
dibaluti dingin tersebut ia tidur dan beristirahat untuk merlanjutkan
perjalannya di esok hari. Sebelum membentangkan alas untuk tidur ia mendengar
suara gagak hitam ia pun tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Suara ayam berkokok mulai kedengaran,
sinar mentari mulai bergerak ke peraduannya. Ki Angke terbangun dan tidak
langsung berdiri merlainkan melihat kearah langit-langit atap rumah tua
tersebut, dan mendapi laba-laba yang sedang membangun sarangnya. Tidak lama
setelah itu ia berdiri dan berjalan kea rah sumur yang berada di rumah
tersebut. Di sumur tua itu ia menimba air dan mengunakannya untuk mencuci muka,
untuk persiapan berjalan kembali. Tidak lupa ia juga mengisi kembali botol
usangnya dengan air dari sumur tersebut, untuk bekal minumnya di perjalanan. Setalah
berkemas Ki Angke melangkah ke arah pintu dan menghirup udara pagi di luar
rumah yang begitu segar. Tanpa berpikir panjang ia kembali melanjutkan
perjalanannya melewati jalan bebatuan yang belum pernah tersentuh aspal
pembangunan sama sekali. Setelah beberapa kilo berjalan dengan menggunakan
sandal yang tali dan telapaknya terbuat dari rotan, Ki Angke melihat sebuah
rumah dengan pekarangan bersih dan beberapa ekor ayam yang sedang memakan biji
jagung. Kemudian ia berjalan dan menghampiri rumah tersebut, disitu ia melihat
banyak warga yang sedang duduk-duduk sambal minum kopi dan beberapa warga yang
memotong kayu serta beberapa ibu tua yang membawa kayu bakar didalam keranjang
yang disangkutkan di bahunya. Sampai disitu Ki Angke Bertanya kepada seorang
warga yang sedang menyeduh kopinya, apakah Kampung Mahama masih jauh dari
tempat tersebut, dengan ramah bapak yang sedang menyeduh kopinya menjawab,
“Inilah kampung Mahama Bapak”. Terlihat rona wajah yang lega dari Ki Angke,
mengetahui bahwa setelah beberapa hari ia berjalan ia pun telah tiba ke tempat
yang ditujunya.
Setibanya Ki Angke di kampung Mahama
yang ditujunya ia langsung mencari tempat untuk tinggal sementara waktu di
kampung tersebut. Tanpa berpikir panjang ia mendatangi setiap rumah untuk
menanyakan apakah mereka memberikan tompangan untuk ditinggali sementara. Namun
saat itu tidak ada rumah untuk disewakan, ketika sedang berjalan mencari
penginapan ia bertemu seorang kakek tua yang sedang memikul kayu bakar di
pundaknya. Kakek tua tersebut bernama Sulistio, biasa dipanggil oleh warga
kampung dengan sebutan Listo. Ketika berpapasan dengan Ki Angke, kakek Listo
tersenyum sambal menundukkan kepalanya dan berjalan terus. Ki Angke datang dan
menghampirinya terus bertanya apakah ditempat tersebut terdapat penginapan,
dengan senyum khas dari kakek Listo ia menjawab, “Sampean boleh menginap di
tempat saya”. Ki Angke pun tidak menolak dan langsung berjalan mengikuti
langkah kek Listo. Sesampainya di depan rumah kakek Listo, ia menyampaikan
bahwa tempat tinggalnya seadanya dan masih sangat sederhana. Ki Angke hanya
tersenyum dan berkata tak apa Pak Tua, kakek Listo menjawab “panggil saja saya
Listo jangan Pak Tua”, sambil tersenyum. Matahari mulai terbenam hari pun mulai
gelap, tidak terasa mereka telah mengobrol selama beberapa jam, sampai kopi
hitam digelas mereka hanya tinggal ampas. Sambal berdiri Ki Angke mengatakan
“sepertinya perut saya sudah mulai lapar”, kek Listo langsung bergegas
menyalakan kayu bakarnya dengan korek api sambal berkata “Ki boleh ambilkan Ubi
di Karung yang berada di samping pintu rumah” saking laparnya Ki Angke hamper
terjatuh ketika mengambil ubi tersebut. Mereka berdua membakar ubi tersebut di
belakang rumah dengan kayu bakar yang dibawa kek Listo siang tadi. Tidak
lengkap rasanya makan ubi tanpa minum mereka kembali menyeduh kopi Hitam dengan
air yang dipanaskan diatas api bekas membakar ubi yang masih menyala.
Selepas memakan ubi dan menyeruput
kopi hitam kedua orang tua ini masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, agar
bisa beraktifitas dengan baik di esok hari. Sebangunnya dari tidur karena suara
ayam yang berkokok kencang, Ki Angke sudah tidak melihat Kakek Listo. Kemudian ia
bangkit dari tempat beristirahatnya menuju pintu depan seraya berteriak
memanggil “Listo… Listo…”. Ketika membuka pintu ia mendapati kakek Listo sudah
berada di depan rumah sambil memotong kayu dengan kapak yang diayunkan kencang
oleh dia. Melihat kejadian itu Ki Angke menghampirinya dan membantu menyusun
kayu-kayu tersebut. Seusai membantu kakek Listo, Ki Angke pergi berjalan-jalan
dengan niat ingin melihat gereja yang sering diceritakan orang-orang yang
sampai ke kupingnya. Kebetulan gereja yang dikatakan gereja terbesar di wilayah
itu memang menjadi tujuannya ke Kampung Mahama, agar dapat menyempurnakan ilmu
yang sedang ia tuntut, termasuk syarat-syarat yang harus ia ambil dan terletak
di sekitar kampung Mahama. Ketika sedang berjalan iya melihat bangunan yang
begitu megah, ternayata bangunan tersebut merupakan gereja yang sedang iya
tuju, roba bahagia dan muka antagonis terlihat di mukanya seakan-akan iya akan
menelan seluruh warga perkampungan.
To Be
Continue….

Komentar
Posting Komentar